Menatap Hari Esok Dengan Tawakal

Oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari

 

 

Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala puji bagi Alloh ﷻ yang telah memberikan berbagai nikmat-Nya kepada setiap hamba-hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad ﷻ, keluarga, sahabat, dan para pengikut setia-Nya.

 

Pada kesempatan ini, kita akan membahas tentang menatap hari esok dengan tawakal. Semoga pembahasan ini menjadi bekal bermanfaat dalam mengabdikan diri kepada Allah ﷻ dan menjadi hamba-Nya yang mulia.

 

Seingkali muncul berbagai pertanyaan-pertanyaan. Seperti bagaimana kehidupan saya di esok hari? bagaimana bila setelah lulus aku tidak dapat kerja? bagaimana jika aku sakit, sedangkan aku tidak punya uang untuk berobat? bagaimana kalau nanti aku tua kemudian lemah dan tidak mampu bekerja? Bagaimana kehidupan di waktu tua nani? Ketika tua masih juga dirisaukan oleh pikiran bagaimana dengan nasib anak cucu saya nanti?

Bisikan-bisikan yang menakut-nakuti kita tentang ketakutan akan kefakiran dan kemiskinan pada hakikatnya adalah bisikan-bisikan setan. Alloh ﷻ berfirman dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 268:

 

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Setan menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian untuk melakukan perbuatan tercela. Padahal Alloh menjadikan untuk kalian ampunan daripada-Nya dan karunia. Alloh Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengatahui.

 

 

Alloh ﷻ mengajarkan bahwa mentatap masa depan adalah dengan tawakal. Sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran surat at-Tholaq ayat 3:

 

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Barangsiapa yang bertawakal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Alloh telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

 

Tawakal merupakan pekerjaan ruhani atau hati. Menurut al-Qur`an, perintah tawakal ditujukan kepada jiwa atau qolbu manusia. Segala perintah Alloh ﷻ diorientasikan kepada jiwa dengan tujuan mendidik dan memperbaiki kualitasnya. Jiwa yang semakin berkualitas akan menampilkan perilaku lahiriah yang semakin berkualitas pula. Tindakan lahir sangat bergantung pada kerja batin atau jiwanya.

Sikap tawakal membuahkan keberuntungan duniawi dan ukhrowi, itu pasti. Seseorang yang dicintai Alloh ﷻ, akan beruntung dunia dan akhirat. Oleh karena itu, jangan salah mempraktikkan tawakal. Rosululloh ﷺ memberi contoh praktik sebagaimana yang diiwayatkan dari Umar bin Khothob secara marfu’:

 

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرِ، تَغْدُوْا خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Sekiranya kalian bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan melimpahkan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung, yang pergi pada pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

 

Jadi, orang yang berjiwa tawakal, bukan orang yang serba menunggu dengan pasif, tetapi berjiwa aktif dan dinamis, seperti aktif dan dinamisnya burung-burung dalam mencari rezeki. Burung-burung patut dijadikan contoh yang nyata, dalam hal bertawakal, utamanya dalam usaha mencari rezeki dari Alloh ﷻ.

Semoga pembahasan ini bermanfaat dan menyadarkan kembali jiwa-kiwa kita untuk menjadi hamba yang bertawakal dalam menatap masa depan. Wallahu Taala alam

 

Wassallam.

--> Tulisan ini sudah dibaca